Setelah beberapa hari ini mas hafi melihat tentang planet.
Waah..luar biasa ternyata mas bisa menggambarkn planet tsb dgn bagus.
Selamat ya nak
MP LAPIS (Millah Production Laku Pisan)
Rumah Kue
Friday, April 18, 2014
Saturday, January 18, 2014
Anak Tidak Berani Sekolah Sendiri
Anak Tidak Berani Sekolah Sendiri
Assallamualaikum Bu.. Anak saya kok tiap mau sekolah,pinginnya dtungguin dan saya berharap anak saya mau lepas dan ngga nempel terus, bagaimana ya caranya? terima kasih y bu.
Jawaban:
Waalaikum salam. Hal ini biasanya terjadi ketika anak baru memulai sekolah plus berpisah dari orang tua.
Ketika memasuki dunia sekolah tentu ada dua masalah utama yang dihadapi anak, rasa takut kepada dunia baru yang kedua rasa gelisah berpisah dari orang tuanya.
Untuk mengatasi rasa takut ini perlu beberapa hal :
1. jika Ibu masih ada marah kepada anak, silakan benar-benar hindari marah kepada anak (redam amarah kepada anak).
2. Sering lakukan E empati mendengarkan sehingga anak bisa mengungkapkan perasaannya dan tahu bahwa kita benar-benar menyayangi dia.
3. Berikan pemahaman tentang sekolah, apa manfaat yang bisa dia dapatkan dari sekolah.
4. Berikan pujian T (tanamkan energi positif) sesuai harapan orang tua. Di kasus ini berarti anak pemberani dan anak pintar.
untuk memberikan pujian ini, buat skenario dulu yang membuat nanda melakukan sesuatu yang layak diberikan pujian anak pemberani, misalnya berhasil ke kamar mandi sendiri, berhasil ke warung sendiri atau hal lain yang berhubungan dengan keberanian untuk mandiri terlepas dari ayahnya.
Skenario untuk pujian anak baik bisa disetting dengan kemampuan dia berbagi ketika ada teman sebaya ke rumah, atau kita ajak ke tempat lain. Ketika dia melakukan hal baik dan diterima temannya, kita berikan pujian anak baik. Sehingga anak merasa bahwa dia anak yang layak diterima oleh teman-teman sebayanya nanti di sekolah.
Hal ini juga dilakukan jika nanda berhasil melakukan perilaku baik pada orang dewasa, misalnya bersalaman atau menyapa, berikan pujian juga. Sehingga anak percaya diri bahwa dia diterima juga oleh orang dewasa yang salah satunya adalah guru di sekolah.
Setelah hal-hal di atas dilaksanakan sekitar 1-2 minggu, silakan ayah mulai menetapkan kapan hari akan dilepas sendiri di sekolah, setelah itu, jika Ibu sudah bilang bahwa Ade sekolah tidak ditemani ibu... maka silakan konsisten... tinggalkan nanda walaupun nanda harus menangis sedikit. Tenangkan hati ibu. Ibu harus berani agar anaknya pun jadi berani. Ibu harus sabar sehingga anaknya pun menjadi sabar. Ketika pulang sekolah dan bertemu, silakan beri pujian lagi dan sampaikan kerinduan kita.
Esok harinya diulang lagi ... insya allah nanda akan bisa melewati masa beradaptasi berpisah dari orang tua dengan lebih baik.
Semoga bermanfaa
Mengatasi Anak Pemalu
Ayah Bunda, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu mengatasi rasa malu pada anak-anak. Pertama, sebaiknya orang tua tidak mengolok-olok atau membicarakan sifat pemalu anak didepannya, karena anak merasa tidak diterima sebagaimana adanya.
Kedua, ketahui kesukaan dan potensi anak. Lalu, doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak usia suka main mobil-mobilan, ketika ditoko ia ingin mobil merah, sementara yang tersedia warna biru. Maka, anak bisa didorong untuk mengatakan pada pelayan bahwa ia menginginkan warna merah.
Ketiga, sebaiknya orang tua secara rutin mengajak anak berkunjung kerumah teman, tetangga, kerabat, dan bermain disana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjug, sebiknya juga mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
Keempat, lakukan role-playing bersama anak. Misalnya, seperti contoh kedua, anak belum tentu berani berbicara pada pelayan toko, sekalipun didampingi orang tuanya. Maka, ketika berada dirumah, orang tua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada ditoko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lainnya.
Kelima, jadilah contoh buat anak. Orang tua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orang tua tetap mendampingi dan tidak langsung melepas anak seorang diri. Misalnya, ketika diminta berbicara pada pelayan toko, orang tua berada disamping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orang tua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan aktivitas seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang.
Semoga bermanfaat.
Persaingan Adik dan kaka
Bu..Anakku usianya 4th 11bln, sejak punya adik (7bln) sifatnya berubah, bikin kita marah aja. Betapa tidak, dia jadi keras kepala, susah diatur tapi gampang nangis kalo kita sedikit menegurnya. Dan yang paling menguji kesabaran, tiap hari dia pasti mengganggu jadwal tidur. Tidur malamnya gak pernah nyenyak, selalu aja nangis minta i...ni itu... Sering terbangun malam intinya,hampir tiap hari... saya jadi pusing gimana ya caranya?
Jawaban:
Hmm... sepertinya nanda sedang stress dengan adanya adik baru...
Ini tentang materi persaingan kakak adik dan adanya adik baru. Hal-hal yang perlu bunda lakukan secepatnya adalah
1. Coba meredan amarah dan hindari memarahinya. Nanda sedang tertekan dengan adanya saingan baru kasih sayang orang tuanya.
Kekesalan kita akan membuat nanda semakin merasa dibenci.
2. Coba berempati mendengarkan, cara inii adalah langkah yang penting untuk membuat nanda bisa menghilangkan keraguannya bahwa dia memang benar2 dicintai oleh bunda. Berikan minimal 15 - 30 menit, usahakan lebih, waktu khusus untuk mendengarkan dia saja. Adik bayi silakan titipkan. Jika adik bayi menangis sedangkan ini masih jatah waktu untuk kakak, maka pastikan yang bunda titipkan mengerti. Ketika nanda sudah mulai merasa percaya diri lagi... baru.. ajak nanda untuk bekerja sama dengan bunda menjaga adik.
3. Coba tanamkan energi positif, berikan pujian2 kecil ketika nanda membantu bunda menyiapkan baju untuk adiknya atau hal-hal lain yang memang nanda bisa lakukan.
Semoga bermanfaat
Agar Anak Tidak Manja dan Konsumtif
Bu...anak saya selalu meminta dibelikan mainan, uang untuk jajan. Secara ekonomi kami kami mampu memberikan. Tapi saya khawatir anak saya nanti jadi manja dan konsumtif. Tapi saya bingung bagaimana cara yang tepat untuk memberi pemahanan pada anak.
Jawaban :
Untuk kasus ini yang tepat untuk menanamkan beberapa nilai sebagai berikut yang berhubungan dengan uang :
1. nilai berhemat
2. nilai berbagi
3. nilai memberi
4. pengetahuan tentang keuangan...
5. Keterampilan tentang jajan yang baik
Nilai Berhemat
skenarionya adalah :
Setiap belanja, bawa serta nanda... tapi berikan pesan bahwa nanda menemani bunda, bukan buat jajan.
bunda misalnya membawa uang 20rb. usahakan setiap belanja, bunda menyisihkan uang sekitar 500 sampai 2000 berbentuk koin (bukan uang kertas) kemudian serahkan pada si anak. Sampaikan bahwa uang ini boleh anak simpan di celengan yang sebelumnya sudah bunda persiapkan... Tapi jika anak tiba-tiba ingin jajan, konsistenlah... sampaikan jika anak rewel... maka bunda akan langsung pulang.
Ketika pulang, ajak anak ke tempat celengan disimpan. Dorong dia untuk menyimpan uangnya.
Sampaikan bahwa, "Kalau nanti celengannya sudah berat, kita akan belikan mainan ... kesukaan kamu. Wah, anak bunda pintar menabung ya..."(sampaikan kata2 ini sambil mengusap kepalanya, bila perlu mencium dan memeluknya)
Lakukan ini beberapa kali dalam seminggu. Tiap hari juga boleh. Setelah celengan berasa berat, untuk awal sekitar 2 minggu kita isi, ajaklah anak untuk membuka celengan bersama. Sampaian
"Nak, karena kamu rajin menabung, sekarang celengannya jadi berat.Kita buka, trus kita belikan mainan ya."
Silakan buka celengan, hitung bersama, masukkan ke sebuah wadah, dan biarkan anak memilih barang sesuai jumlah uang yang ada, dan minta dia menyerahkan sendiri uangnya ke penjual.
Setelah itu, di rumah silakan adakan pembicaraan tentang betapa karena anak rajin menabung, jadi bisa membeli mainan...
Nilai berbagi
Skenario adalah :
Silakan sesekali bunda membelikan dua jenis mainan.Kemudian ajak anak ke tempat temen atau tetangga yang berkekurangan. Dengan rumah yang kurang layak dan tidak ada mainan. Coba sampaikan kepada anak, "Anak sholeh, kasihan ya...si itu... tidak punya mainan. bagaimana kalau mainan kamu diberikan satu ke ... Nanti kamu menabung lagi setiap hari, ntar bisa beli lagi. Kasihan si .... tak punya mainan."
Berikan pujian jika anak berhasil memberikan mainan. Jika belum... pulanglah dengan wajah sedih dan berpikir.
Buat diskusi malamnya, dan berikan cerita sebelum tdur tentang berbagi. Coba dorong anak untuk mengerti bahwa senang sekali jika kita tidak memiliki mainan, trus ada orang yang memberi. Jadi, anak yang miskin itu pasti senang sekali kalau diberi mainan sama anak bunda.
Nilai Memberi
Skenario acara ultah teman terdekat. Silakan setelah tabungannya cukup berat... si anak sengaja membeli mainan untuk temannya. Biarkan dia memilih. Pujilah pilihannya...Pujilah keinginannya untuk memberi.
Pengetahuan Keuangan
Selalu sampaikan berapa jumlah uang yang anak punya . BErapa harga mainan dan setelah itu sampaikan berapa sisa uang yang dimiliki. Hubungkan dengan hitungan angka yang anak pahami...
Keterampilan Jajan yang Baik
Setiap ada kesempatan, sampaikan bahwa nanda adalah anak sholeh anak sholeh tidak banyak jajan. Anak pintar jajan makanan yang bersih dan sehat.
Pengetahuan tentang makanan yang sehat silakan disampaikan dalam cerita malam sebelum tidur. Setelah itu, ketika ada jadwal anak untuk jajan, bimbinglah sesuai dengan peraturan yang bunda sepakati dengan anak. konsisten lah dengan hal ini.
dalam parenting, hasil bukanlah yang utama... proses juga adalah sesuatu yang akan diingat oleh seorang anak. Proses yang indah, penuh cinta dan kesabaran akan berbuah hal yang sama, yang akan bunda tuai nanti di masa depan...
Semoga bermanfaat ya..
Mengatasi Anak Pemalu
Sikap Pemalu Justru di dapat dari belajar
Mungkin selama ini kita tak pernah tahu, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu. Mau tahu siapa "biang kerok"nya? Ternyata, orang tua! Punya anak pemalu kerap bikin jengkel. Ke mana-mana dan di mana saja, si kecil menempel atau sembunyi di balik orang tua/pengasuhnya. Apalagi kalau diajak ke sebuah lingkungan baru yang dirasanya asing. Yang pasti, seperti dituturkan Dra. Frida NRH, MS, staf pengajar jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, ada beberapa kategori anak pemalu. Ada yang tak berani tampil di tempat umum, tak mau bertemu orang, ada pula yang mau bertemu orang tapi tanpa melakukan sesuatu, terlebih yang bersifaf kompetitif. Bahkan ada yang saking pemalunya, enggan bertemu orang. Jika terpaksa, badannya gemetar, keluar keringat, bahkan jadi kebelet pipis.
Pada kasus yang ekstrim itu, "Si pemalu disebut menderita fobia sosial. Ia perlu bantuan ahli untuk penyembuhannya," kata Frida. Namun jangan cemas jika si kecil yang cenderung pemalu akan menderita fobia sosial tersebut. "Itu sangat jarang terjadi, kok. Terlebih jika orang tua sejak awal sudah peka bahwa anaknya ada kecenderungan menjadi pemalu dan bisa segera mengatasinya."
Dari "Belajar"
Frida yakin, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu. "Dia jadi pemalu lebih disebabkan lingkungan tempat ia belajar." Anak, lanjutnya, mengalami proses (sejak lahir) bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya yang lalu memberinya suatu pelajaran bahwa, "Saya harus malu." Jadi, "Ada pengalaman yang membuat si anak mengambil kesimpulan bahwa ia harus muncul sebagai pemalu terhadap lingkungannya." Sayangnya, orang tua sering tak sadar, mereka telah menciptakan suatu lingkungan yang membuat anaknya jadi pemalu. Anak "belajar" dari perlakuan yang diterima, amati, dan rasakan dari ayah-ibunya. Contohnya, anak yang sering diperlakukan negatif. "Mau ini-itu, dicela dan dilarang. Dari sinilah bibit pemalu bisa muncul." Demikian juga anak yang terlalu dilindungi, yang akhirnya membuatnya sulit melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Frida mengibaratkan anak dalam kepompong, yang selalu dilindungi dan dibantu. "Akibatnya, anak tak pernah bisa mandiri," tutur pengurus Lembaga Perlindungan Anak Jawa Tengah ini.
Contoh lain adalah anak yang biasa menerima kasih sayang untuk sikap-sikap yang kondisional. "Si anak disayang orang tua kalau menurut, bersikap baik. Pokoknya, semacam ada syaratnya." Alhasil, hal ini akan terbawa saat ia harus berhubungan dengan lingkungan luar. Ia merasa, kalau mau diterima dengan baik, ada persyaratannya yang mesti dilakukannya. Padahal, lanjut Frida, anak punya persepsi tentang dirinya sendiri. Kalau sering diberi syarat, ia jadi berpikir, "Oh, Mama dan Papa mensyaratkan begitu. Jadi, kalau syaratnya belum bisa saya penuhi, saya belum sempurna betul untuk tampil."
Dampak selanjutnya, anak akan takut berkompetisi karena ia selalu merasa orang lain akan lebih dari dirinya. "Nah, itu, kan, membuatnya makin merasa malu untuk tampil. Sebab, ia merasa tak aman." Perasaan kurang PD (percaya diri) itulah yang membuatnya merasa, orang lain tak welcome menerima dirinya atau ia merasa, dirinya memang tak mampu. Bisa juga ia jadi merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri karena selalu diliputi perasaan, "Jika saya tampil, pasti saya akan dilecehkan."
"Terus Latih"
Lantaran itulah Frida percaya, anak yang memiliki kecenderungan pemalu dapat berubah. Apalagi dalam hidupnya, anak terus berproses mengembangkan dirinya. Yang penting, orang tua rajin memberikan stimulasi dan latihan padanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. "Niscaya rasa malu itu akan berkurang, bahkan dapat dihilangkan," tegas Frida. Caranya? Beri anak pengalaman yang membuatnya tersadar, konsep dirinya itu keliru. "Hingga ia pun akan berkesimpulan, ternyata dengan kemampuan yang ada pun, orang lain menerima dirinya sepenuhnya." Juga bahwa dunia yang dicintainya tak membutuhkan banyak syarat. "Ini akan memberikan perubahan pada dirinya," ujar pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Anak, Remaja dan Pemuda wilayah Jawa Tengah ini. Dengan kata lain, orang tua membantu anak mengkaji ulang pandangan tentang dirinya sendiri. Lama-kelamaan si anak akan berpikir, menjadi pemalu adalah hal keliru. "Itu perlunya pelatihan-pelatihan. Menurut saya, pemalu lebih karena sikap, bukan personality atau kepribadian."
Karena itulah, orang tua harus melatih anak agar tak jadi pemalu. Ini sekaligus penting untuk menanamkan pada anak bahwa untuk hidup di masyarakat, diperlukan "keberanian". Soalnya, sambung Frida, "Lingkungan selalu membutuhkan penyesuaian dari kita. Orang-orang yang tak mampu bergaul dan bersosialisasi dianggap maladjusted ." Lebih dari itu, lingkungan juga akan mencapnya memiliki perkembangan kepribadian yang kurang baik atau bahkan dicap berkepribadian negatif. Akibatnya, "Ia tak lagi bisa optimal mengembangkan dirinya secara baik dengan cap yang sudah terlanjur melekat tadi."
Sumber : Tabloid Nakita
Ayah Bunda, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu mengatasi rasa malu pada anak-anak. Pertama, sebaiknya orang tua tidak mengolok-olok atau membicarakan sifat pemalu anak didepannya, karena anak merasa tidak diterima sebagaimana adanya.
Kedua, ketahui kesukaan dan potensi anak. Lalu, doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak usia suka main mobil-mobilan, ketika ditoko ia ingin mobil merah, sementara yang tersedia warna biru. Maka, anak bisa didorong untuk mengatakan pada pelayan bahwa ia menginginkan warna merah.
Ketiga, sebaiknya orang tua secara rutin mengajak anak berkunjung kerumah teman, tetangga, kerabat, dan bermain disana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjug, sebiknya juga mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
Keempat, lakukan role-playing bersama anak. Misalnya, seperti contoh kedua, anak belum tentu berani berbicara pada pelayan toko, sekalipun didampingi orang tuanya. Maka, ketika berada dirumah, orang tua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada ditoko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lainnya.
Kelima, jadilah contoh buat anak. Orang tua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
Apapun usaha yang dilakukan, sebiaknya orang tua tetap mendampingi dan tidak langsung melepas anak seorang diri. Misalnya, ketika diminta berbicara pada pelayan toko, orang tua berada disamping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orang tua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan aktivitas seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang.
Kue Kering
Kue Kering Bagi sebagian orangtua, membuat kue kering bersama anak mereka untuk disajikan pada hari raya merupakan salah satu kegiatan bersama yang mengasyikan. Dimulai dari memilih resep kue kering, belanja bahan baku, mempersiapkan peralatan, menimbang bahan-bahan, membuat adonan dan mencetaknya, memanggang kue kering di dalam oven, sampai menyimpan kue kering yang telah matang ke dalam toples-toples. Sedangkan bagi anda yang sibuk bekerja atau kurang menyukai kegiatan memasak, membeli kue kering merupakan pilihan yang terbaik.
Di pasaran, banyak dijumpai variasi jenis kue kering yang tampilannya menarik namun dari segi rasa tidak kalah bersaing. Jenis kue kering yang biasa dikenal di masyarakat diantaranya adalah nastar, kaastengels (kue keju), putri salju, sagu keju dan lidah kucing. Selain itu, banyak pula variasi kue kering dengan campuran coklat, buah kering, kismis, selai, dan kacang-kacangan, yang dibuat oleh para produsen kue kering. Yang terpenting, anda tinggal menyiapkan budget yang akan anda keluarkan untuk membeli kue kering tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)